Ketika Rekan Kerja Positiv Covid-19

Aku sempat ngerasa bahwa Covid-19 hanya ada dalam berita. Sampai dengan dua hari lalu ketika salah seorang rekan kerja dinyatakan positiv Covid-19.

Dua hari lalu, tepatnya tanggal 5 Mei 2020, aku dikagetkan dengan adanya panggilan masuk dari nomor kantor. Gimana gak kaget kalau panggilan tersebut masuk malem-malem, jam 21.27 CET di saat aku lagi asik-asiknya makan. Agak deg-degan buat ngangkat telpon, takutnya aku dapat sanksi karena hari itu terlambat masuk sampai 45 menit. Ternyata…

“Vitri, ini Meg. Aku mau bilang kalau Thalia dinyatakan positiv Covid-19. Mungkin besok akan ada dinas kesehatan yang menghubungi kamu terkait swab tes. Kalau kamu gak dapat telpon dari mereka, nanti paling aku yang nelpon kamu”.

Kurang lebih itu isi percakapan kami dua hari lalu di telpon.

Setelah nutup telpon, aku langsung minta tolong suami untuk ngambil jadwal kerja yang ditempel di kulkas. Pemalas aku ini emang, tapi untungnya suami enggak 😀 Aku langsung liat kapan terakhir aku kerja bareng Thalia dan ternyata kami kerja di jadwal yang sama di tanggal 27 dan 28 April 2020.

Aku langsung kirim WhatsApp ke Risa, karena dia tinggal serumah dengan kami, supaya mengabari tempat kerjanya kalau dia gak bisa masuk besok. Khawatirnya aku harus di tes swab.


Disini aturannya gak boleh masuk kerja kalau yang serumah di tes Covid-19 atau ada seseorang yang dekat terkena Covid-19. Sampai hasil tes orang tersebut dinyatakan negativ. Tapi sayangnya gak ada yang ngangkat, jadi dia besoknya terpaksa masuk kerja dan langsung dipulangin.

Pemberitahuan berkala dari Twitter Kota Trier mengenai jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di Trier.
Jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 selalu dibagikan secara resmi oleh twitter kota Trier @stadt_Trier.

Dinas Kesehatan mengumumkan bahwa hari ini ada satu orang yang terinfeksi SARS-CoV-2. Oleh karena itu jumlah yang terinfeksi meningkat jadi 100 kasus (tercatat 7. Mei 2020). Total ada 93 orang di Trier yang dinyatakan telah sehat kembali. #coronaTrier #trierbleibtzuhause

Baca juga:
Kuliah Tanpa Abitur

Aku Gak Perlu Tes Swab

Keesokan paginya, Meg nelpon lagi dan bilang kalau hari itu diadakan meeting dadakan jam 14.00 CET. Selain itu Meg ngasih tahu kalau aku gak usah di tes swab, jadi Risa bisa pergi kerja lagi seperti biasa. Meg tahu kalau Risa tinggal bareng kami, karena aku pernah dipulangin dari kantor waktu Risa di tes swab. Alhamdulillah hasilnya negativ.

Di Jerman, orang yang memiliki gejala flu, seperti demam mulai dari 38′ C, pusing, batuk, hidung tersumbat, bersin-bersin harus langsung izin sakit dari tempat kerja. Segera menghubungi dokter untuk di tes swab yang hasilnya akan keluar 1-2 hari kemudian.

Kalau hasilnya negativ, orang tersebut boleh masuk kerja lagi seperti biasa. Tapi kalau seandainya hasilnya positiv, maka dia harus dikarantina di rumah selama 14 hari. Lalu dilakukan tes lagi untuk memastikan kalau dia sudah terbebas dari Covid-19. Kalau ternyata belum? Dia dan orang yang kontak dengannya harus dikarantina lagi sampai hasilnya benar-benar negativ.

Alasan Kenapa Aku Gak Tes Swab

Di malam hari waktu Meg telpon, dia ada di kantor sampai tengah malam. Karena dia harus menghubungi semua orang yang bekerja satu shift dengan Thalia. Dinas kesehatan langsung dihubungi, pimpinan panti lainnya ikut dilibatkan, karena dikhawatirkan panti akan ditutup dan diserahkan pada pihak dinas kesehatan untuk mengambil alih.

Pagi harinya Meg sibuk nelpon dinas kesehatan. Dinas kesehatan datang dan ngecek kondisi semua penghuni. Syukurnya semua dalam kondisi baik-baik aja karena langkah pencegahan yang kami lakukan sangat baik.

Hasil obrolan dengan dinas kesehatan disampaikan dalam meeting. Dalam meeting disebutkan beberapa alasan yang diberikan dinas kesehatan, kenapa kami gak usah di tes, yaitu:

  1. Kami yang bekerja di shift yang sama tanggal 27 dan 28 April gak usah di tes, karena Thalia baru merasakan gejala pertama pada tanggal 1 Mei.
  2. Masa paling rawan penularan adalah hari pertama dan kedua setelah gejala pertama muncul. Dalam kasus ini yaitu tanggal 2 dan 3 Mei.
  3. Walaupun Thalia saat terakhir kali bekerja diduga sudah terinfeksi Covid-19, persentasi kemungkinan kami tertular itu kecil. Liat poin 2.
  4. Kita tidak akan tertular Covid-19 kalau tidak beraktivitas dengan orang yang terinfeksi dalam jarak dekat (kurang dari 2 m).
  5. Kalau kita ada kontak singkat dengan orang yang terifeksi Covid-19 (tidak sampai 15 menit), maka resiko tertular kecil.

Baca juga:
Covid-19 dan Pandangan Penyandang Disabilitas

Info Penting Penularan Covid-19

Dari beberapa poin di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kita semua harus meminimalisir durasi kontak (max 15 menit) dan mengambil jarak aman (2 m). Selalu gunakan masker penutup disaat akan melakukan kontak dengan siapapun, baik dalam jarak dekat maupun dalam jarak aman (2 m).

Jika ada keluhan sakit yang menyerupai gejala flu, segera hubungi dokter dan langsung izin sakit dari tempat kerja. Dalam hal ini Thalia patut diacungi jempol karena reaksinya yang sangat cepat dan tepat.

Selain itu dinas kesahatan bilang

Jika kita berpapasan dengan orang yang terinfeksi Covid-19, tidak perlu khawatir karena reaksi tertular sangat kecil dengan durasi kontak sesingkat itu. Kecuali saat papasan ada kontak dan melanggar batas aman (2 m).

Semoga kita semua diberi kesehatan. Saat ini menjaga jarak bukan berarti tidak menjaga hubungan baik. Dengan menjaga jarak, kita sudah melindungi diri sendiri dan juga orang yang dikasihi. Jangan lupa untuk selalu memakai masker di tempat umum ya…

Baca juga:
Sekolah di Jerman: Dari SD sampai dengan Universitas

Yuk bagikan informasi ini!

Leave a Reply

Instagram
YouTube
YouTube
LinkedIn
Share
Ikuti Lewat Email
RSS