Bahan Makanan Gratis dari Foodsharing

Saat pertama kali datang ke Jerman aku sempat terkaget-kaget dengan kebiasaan Gastvater aku dalam hal belanja kebutuhan sehari-hari. Dia bilang orang Jerman pada umumnya berbelanja kebutuhan harian sebanyak satu kali dalam satu minggu, karena mereka gak punya banyak waktu untuk berbelanja pada hari biasa. Oleh karena itu mereka biasanya membuat daftar barang apa saja yang harus mereka beli baik itu kebutuhan seperti sabun, pasta gigi, makanan kalengan, daging, susu, buah maupun sayur. Semua hal tersebut dibeli dalam satu waktu yang bersamaan yaitu hari Sabtu, makanya setiap hari Sabtu kebanyakan supermarket di Jerman selalu penuh. Aku lalu bilang kalau di Indonesia ada mamang tukang sayur yang suka berkeliling setiap harinya jadi orang-orang bisa belanja makanan segar setiap hari. Lalu Gastvater aku bilang “bagus juga seandainya di Jerman ada yang seperti mamang sayur begitu, jadi orang-orang gak usah belanja sayur dan buah seminggu sekali karena banyak banget makanan yang harus dibuang setiap minggunya.”

Baca juga: Orang Jerman Ternyata Suka “Mengoplos” Minuman

Setelah beberapa minggu aku tinggal dengan mereka, ternyata apa yang Gastvater aku katakan itu benar. Lumayan banyak sayur dan buah yang harus dibuang karena membusuk, apalagi di musim panas kami ga pernah bisa nyimpan pisang berlama-lama karena selalu cepat menghitam. Awalnya enak pisang-pisang tersebut bisa dibikin smoothies, pisang goreng, dsb., tapi lama kelamaan kok bosen juga ya makan apa-apa yang bahan dasarnya pisang karena sayang kalau harus dibuang.

37062871_1927301850653763_8595214146188869632_n

Lemari Fairteller di Café Momo

Aku sempat mikir, kalau dalam satu rumah minimal membuang satu paprika, tiga pisang, dua batang daun bawang, lima buah kentang dan satu buah roti setiap harinya, gak kebayang berapa banyak makanan yang menuhin tong sampah dalam satu minggu. Kebanyakan kondisinya masih layak makan, barang-barang tersebut dibuang cuma karena orang-orang belinya kebanyakan dan mereka cuma butuh sedikit untuk dimasak. Gak hanya itu, banyak juga yang merasa salah beli, saat barangnya udah dibeli lalu dicoba, ternyata rasanya gak sesuai dengan yang dibayangkan, maka dari itu makanan tersebut langsung dibuang, karena gak ada orang di rumah tersebut yang mau memakannya. Sebagian memang ada yang kondisinya udah penyok dan memar tapi masih layak dimakan, tinggal kupas dan buang dikit bagian yang busuknya, tapi kebanyakan orang langsung buang karena bingung mau dimasak apa. Aku jadi ingat tetangga yang dulu tinggal di sebelah rumah di Tasikmalaya, dia selalu datang ke supermarket lalu membawa pulang sayur dan buah-buahan yang sudah tidak layak jual tapi masih layak makan. Sayur dan buah tersebut dicuci bersih lalu dipotong-potong dan dikemas menarik lalu dijual. Apa gak ada yang seperti itu di Jerman, setidaknya walaupun tidak menghasilkan uang, barang-barang tersebut masih bisa dimanfaatkan oleh orang lain.

37710476_255627395228126_4528855297791361024_n

Spatzle jamur yang dibagikan karena masak terlalu banyak

Aku langsung search di internet apa ada organisasi nirlaba yang bertujuan untuk mengurangi sampah makanan, ternyata grup tersebut memang ada dan berjalan cukup baik, namanya Foodsharing. Yang menggembirakan lagi ternyata Foodsharing sendiri cukup aktiv berjalan di kota dimana aku tinggal, hanya di kota ini sebutannya bukan Foodsharing melainkan Fairteller (Fair = adil, Teller = piring) plesetan dari Vertailer yang dalam bahasa Jerman memiliki arti seseorang yang membagikan sesuatu, menarik kan? Motto mereka adalah “teilen statt wegwerfen” atau “bagikan daripada buang”. Selain mencegah banyaknya makanan yang dibuang percuma, menurutku Fairteller juga cocok bagi mereka yang senang berbagi dan ingin menghemat, mahasiswa seperti aku contohnya.

Bagi yang tinggal di daerah Trier dan sekitarnya, lokasi Fairteller ada di:

  1. Simplicissimus (Viehmarktplatz 11)
  2. Studihaus (Universität Trier)
    Senin – Jumat: 12.00 – 16.00
  3. Café Momo (Agritiusstraße 4)

Langsung aku registrasi ke situsnya Foodsharing untuk mendapatkan info lebih lanjut mengenai Fairteller dan dari situs tersebut aku jadi tahu bahwa Foodsharing di kotaku menyediakan lemari-lemari tempat penyimpanan makanan yang bisa diakses oleh siapapun karena letaknya strategis di tengah kota. Selain itu grup Foodsharing di kotaku juga punya grup khusus di Facebook, dimana orang-orang secara individu bisa membagikan makanan mereka yang berlebih kepada orang lain dengan jalan langsung diambil ke rumah orang yang membagikan makanannya (alamat rumah dibagikan melalui messenger, jadi privacy tetap terjaga).

38296709_10216839377642577_2565232246181068800_n

Bahan makanan yang disimpan didepan rumah supaya siapapun bisa mengambilnya

Selain membagikan makanan secara pribadi, Foodsharing juga merekrut para Lebensmittel-Retter (penyelamat bahan makanan) melalui situs resminya, sehingga para penyelamat makanan tersebut memiliki akses untuk mengambil makanan seperti roti, sayur, susu, pudding, daging, dsb. dari supermarket dan makanan yang diambil dari supermarket tersebut TIDAK BOLEH DIJUAL. Kalau ada salah satu anggota Lebensmittel-Retter yang ketahuan menjual makanan yang diambil dari supermarket atas nama Foodsharing, maka anggota tersebut akan dicabut haknya untuk mengambil makanan dari supermarket dan kemungkinan buruk lainnya supermarket tersebut akan memutus kerjasamanya dengan Foodsharing.

38222566_1976065225757504_254422519606411264_n

Teh yang hanya diminum sedikit-sedikit dan masih banyak sisa

Sempat kepikiran bahwa aku juga ingin membuka organisasi nirlaba seperti Foodsharing di Indonesia, karena tanpa kita sadari banyak sekali orang yang membutuhkan makanan di sekitar kita. Apalagi di Indonesia sering ada isu kenaikan bahan pangan, mungkin ide seperti ini akan lebih maksimal jika dijalankan di Indonesia. Hanya satu sebenarnya halangan yang aku hadapi untuk mendirikan organisasi nirlaba seperti ini, masalahnya ada di rasa gengsi orang-orangnya. Saat aku bilang ide ini pada salah satu kenalanku di Indonesia, responnya adalah “masa mau bagi-bagi makanan sisa?”, “masa bagi-bagi makanan yang kita masak, kan belum tentu enak buat orang lain!”, “kayak bakal ada aja orang yang mau ambil makanannya dari lemari tersebut, kan malu keliatan minta-minta” dan segudang alasan lainnya yang membuat seseorang enggan untuk berbagi. Lebih baik dibuang daripada malu harus nawarin makanan pada orang lain 😢

Sebenernya kan bukan makanan sisa dari piring juga yang nanti akan dibagikan, tapi makanan yang masih ada di panci yang tidak dimakan lagi karena masak terlalu banyak. Apalagi di Indonesia banyak banget makanan kekinian yang tampilannya meyakinkan tapi rasanya gak sesuai dengan harapan, barangkali kalian termasuk salah satu orang yang terjebak membeli makanan kekinian yang tampilannya meyakinkan tapi pas dicoba rasanya gak karuan. Daripada dibuang, akan lebih bermanfaat lagi kalau makanan tersebut dibagikan pada orang lain, barangkali ada orang yang menganggap makanan itu enak atau setidaknya bisa mencegah orang tersebut kelaparan walaupun cuma satu hari. Lagian lebih baik ngambil dari lemari yang bersih daripada membiarkan mereka yang kelaparan ngorek-ngorek makanan sisa dari tong sampah, iya kan? Barangkali kalian ingin bergabung dengan aku untuk membentuk organisasi nirlaba seperti Foodsharing di Indonesia, feel free to contact me ya, karena aku juga terhalang jarak sehingga realisasi untuk pembentukan organisasinya masih agak tersendat.

Have a nice day...

4 thoughts on “Bahan Makanan Gratis dari Foodsharing

  1. Anna Liwun says:

    Hallo,
    Senang membaca pengalaman dirimu di Jerman. Apakah kamu mengikuti program au pair? Karena kamu menyebutnya ‚Gastvater‘. Ohya, saya sudah sampai di Trier. Apakah kamu tinggal di Trier?
    Salam,
    Anna

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s