Kerja di Jerman: Ternyata Punya SIM itu Penting

Setelah dapet info dari suami kalau kerja jadi tenaga ahli itu gajinya gede, aku langsung bersemangat buat nyari info tentang kerjaan yang aku minati dan sesuai dengan jurusan aku kuliah saat ini. Karena aku kuliah ambil jurusan Erziehungswissenschaften, dimana cabang jurusannya itu luas dan banyak banget ujung-ujungnya aku kebingungan mau kerja dibidang apa hahaha, tapi akhirnya aku kirim lamarannya ke salah satu lembaga sosial yang mengurus segala keperluan pengungsi dibawah umur. Menurutku bidang ini menarik dan aku cukup tahu banyak informasi mengenai pekerjaan dibidang tersebut dari hasil penelitian dan baca-baca buku tentang undang-undang pengungsi dibawah umur.

Selang dua hari tanpa disangka-sangka aku ditelepon oleh pihak lembaga sosial tersebut dan diundang untuk wawancara. Sempet kaget juga pas dikasih tahu alamatnya dimana, karena itu jauh banget dari kota tempat aku tinggal, tapi ga apa-apa toh ada bus yang menuju kesana walaupun perjalanannya hampir memakan waktu satu jam.

Singkat cerita sampailah aku ditempat wawancara. Saat itu aku diwawancara oleh dua orang, laki-laki namanya Herr Kalwitz dan yang perempuan aku lupa lagi namanya. Selama wawancara berlangsung alhamdulilah santai aja, aku bisa jawab semua pertanyaan dengan baik, komunikasi juga berjalan dua arah dan mereka menilai aku tahu apa yang harus aku kerjakan. Saking semangatnya si bapaknya sampai udah nanya-nanya kapan aku bisa mulai kerja, berapa jam seminggu aku bisa kerja, sampai hitungan gaji juga dia udah serahkan, padahal jadwal uji coba buat kerja aja saat itu belum diomongin tapi dia udah nyerocos mau bikinin aku kontrak kerja.


IMG_20180824_114426_184
Kalau ditaman bermain ini surat fungsinya biar gak usah antri kali ya

Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, sampai disaat tiba-tiba aku bilang kalau aku gak punya SIM. Si bapak dan ibu bilang akan susah kalau aku gak punya SIM, karena aku harus bawa nanti anak-anak pengungsi itu untuk ke BAMF (Bundesagentur für Migration und Flüchtlinge), belum kalau misalkan anaknya sakit harus dibawa ke dokter atau kalau anak-anaknya bermasalah sama hukum harus dijemput dari kantor polisi. Anak-anak pengungsi dibawah umur yang tinggal di tempat penampungan kebanyakannya laki-laki dari umur 14 sampai dengan 18 tahun, jadi kemungkinan mereka bikin masalah sampe ditahan di kantor polisi itu pasti ada. SIM yang jadi persyaratan disini bukan SIM motor ya, tapi SIM mobil, kalau di Indonesia SIM kelas A tapi kalau di Jerman disebutnya SIM kelas B buat kendaraan biasa.

Pokoknya SIM itu wajib dan penting, gak apa-apa aku gak punya mobil juga karena mobil disediakan dari tempat kerja, yang penting punya SIM. Aku gak akan dapet kerja di bidang Sozialarbeit kalau aku gak punya SIM, gitu si ibu nya bilang. Padahal bikin SIM di Jerman itu ribet dan lama, ada ujian tulisnya, terus ujian praktek, belum jam wajib buat mengemudi sebanyak 14 jam. Kisarannya bisa dari 1000 – 3000 Euro tergantung seberapa cepet kalian belajar, kebanyakan sih katanya 2000 Euro ya, bahkan ada temen orang Jerman yang sampe abis 3300 Euro buat bikin SIM. Nyesek banget 🙁

Akhirnya aku dikasih surat yang isinya menyatakan aku udah diterima kerja sebagai Bachelor Sozialarbeiter yang kerjanya paruh waktu asalkan aku punya SIM. Jadi sewaktu-waktu kalau aku udah punya SIM, aku bisa langsung kirim email ke mereka dan bisa langsung diterima kerja. Sekalian surat itu juga untuk ditunjukan ke pihak Arbeitsagentur karena katanya kalau seseorang perlu SIM karena keharusan dari tempat kerja, maka pemerintah kota akan memberi bantuan keuangan untuk bikin SIM nya, tapi aku belum sempat nanya kesana apa aku punya hak untuk dapat bantuan tersebut atau nggak.

Menyambung postingan sebelumnya, yang Kerja di Jerman: Freelance bagi Mahasiswa Non-EU di Jerman, dalam kasus aku disini aku termasuk ke dalam pasal § 18a AufenthG karena aku sudah memiliki ijazah bachelor yang diakui atau di anerkannt oleh pemerintah Jerman. Makanya aku bisa kerja sebagai tenaga ahli dan dibuat pengecualian karena pekerjaan ini sesuai dengan jurusan aku kuliah sekarang, Sayangnya SIM nya gak ada, jadi harus semangat nih kerja keras buat nabung bikin SIM. Mungkin beberapa di antara kalian ada yang mikir, kenapa gak pake SIM Indonesia aja atau SIM Internasional? Kenapa harus pakai SIM Jerman? Soalnya aku udah gak bisa lagi pakai SIM Internasional, karena aku sudah termasuk ke dalam kategori “menetap” di Jerman. Menetap disini hitungannya kalau buat SIM itu adalah tinggal di wilayah Jerman lebih dari 6 bulan. Jadi buat yang baru dateng ke Jerman dan punya SIM Internasional, silakan nyetir sepuasnya sampe masa tinggalnya 6 bulan, setelah itu SIM Internasionalnya gak berlaku. Selengkapnya bisa dibaca disini ya mengenai masa berlaku SIM Internasional di Jerman.

Yuk bagikan informasi ini!
error

2 comments / Add your comment below

  1. Ya Tuhan apes banget ya 3300 euro! Kebetulan aku ikut FSJ juga di Stuttgart persyaratannya harus ada sim internasional, untungnya aku sudah buat duluan di Jakarta, sim mobil aku cuma bayar skitar 450rb untuk buat sim internasional.

Leave a Reply

Facebook
Facebook
Instagram
YouTube
YouTube
LinkedIn
Ikuti Lewat Email
RSS