Kerja di Jerman: Freelance bagi Mahasiswa Non-EU di Jerman

Haii, udah lama banget ya gak nulis, rasanya jari ini udah gatel banget banyak yang pengen di share sama kalian. Selama beberapa bulan kebelakang banyak banget kejadian yang life changing di kehidupan aku dan suami, mulai dari masalah perkuliahan, pekerjaan sampe ke ranah kehidupan pribadi kita. Well, aku bahas satu per satu ya, dimulai dari cerita dimana suami dapet pekerjaan sebagai freelancer.

Awalnya suami kerja bareng dengan aku di restaurant yang ada di kota kami, tapi karena suami ini paling ga bisa kalau harus lama-lama ngerjain sesuatu hal yang di luar bidangnya, makanya dia keluar dari restaurant dan mulai fokus nyari kerjaan yang berhubungan dengan mata kuliahnya dia, informatik. Awalnya dia udah percobaan kerja di salah satu perusaan web agency gitu, tapi kok kita ngerasa berat banget kalau harus kerja disitu, karena suami harus selalu skip solat jumat nantinya. Kenapa harus selalu skip solat jumat? Karena jadwal kosong yang dimiliki suami itu hari jumat dan di kota kami yang kecil tapi indah ini, masjid cuma ada satu. Sedangkan suami kerja jaraknya hampir satu jam dengan kereta dan disana kotanya lebih kecil, jadi kalau mau solat jumat itu harus segera pulang naek kereta, kasian banget kan? Mana jam solat di Jerman itu gak menentu di tiap musimnya, kebayang kalau pas winter, baru juga nyampe tempat kerja udah harus pulang lagi 🙁 Allah itu maha bisa segalanya dan tahu apa yang terbaik buat kita, akhirnya suami ga jadi kerja disana karena perusahaannya kalah tender. Setelah beberapa minggu kemudian, akhirnya nemu juga tuh lowongan kerja yang diposting sama dosennya dan singkat cerita akhirnya suami kerja disana.

Suami happy banget karena tempat kerjanya deket dari rumah (10 menit kalau jalan kaki), gak akan ngehambat jumatan karena jam istirahatnnya fleksibel dan gajinya juga di atas upah gaji minimum. Tapi sepertinya kesenengan ini gak selamanya berlangsung, disaat waktu gajian tiba suami kebingungan waktu diminta untuk bikin slip gaji sendiri (Rechnung), biasanya kan kalau kerja sambilan gitu kita langsung dapet uangnya plus slip gaji yang dikasih sama pihak tempat kerja. Selain itu suami juga dibekelin catetan sama tempat kerjanya buat daftar jadi “Kleinunternehmer” ke Stadtverwaltung. Sesampainya di Stadtverwaltung, dibilang sama ibu petugasnya bahwa kami seharusnya datang ke Ordnungsamt. Setelah dapet info itu kami buru-buru pergi ke Ordnungsamt untuk daftar, karena kami masih harus pergi ke Finanzamt setelah selesai pendaftaran.


Sesampainya di Ordnungsamt, kami masuk ke salah satu ruangan yang dipintunya tertulis “Gewerbebehörde”. Disana kami bilang tujuan kami datang, lalu suami diminta untuk nunjukin passport dan visanya, nah disini kami baru tahu kalau visa mahasiswa non-EU itu gak boleh kerja jadi freelancer, jadi petugasnya menyarankan suami untuk konsultasi dulu ke tempat kerjanya. Diperjalanan menuju tempat kerja suami, aku browsing dan dapet kasus yang sama disini. Disitus itu dijawab:
“Sebagai mahasiswa asing dari negara non-EU pada dasarnya memungkinkan untuk kerja sebagai freelancer sesuai aturan § 21 Abs. 6 Aufenthaltsgesetz, tapi baru bisa dilakukan atas sepengetahuan dan izin dari pihak AuslĂ€nderbehörde.”
Disitu kami udah mulai agak happy karena sepertinya masih ada harapan untuk bisa tetep kerja, gimana gak berharap coba orang gajinya 15 € per jam.

Kebetulan saat itu kami juga harus perpanjangan visa lalu suami cerita semuanya ke petugasnya dan petugasnya bilang kalau mahasiswa non-EU itu gak bisa untuk freelance, tapi ada pengecualian yang bisa diberikan asalkan kegiatannya sesuai dengan mata kuliah yang diambil. Terus setelah itu petugasnya ngasih sejenis formular yang harus di isi mengenai detail pekerjaannya, supaya bisa dievaluasi apakah kegiatan tersebut memenuhi kriteria atau nggak. Disini mulai agak ribet urusannya, kasian suami harus bolak balik ke kantornya terus ke AuslÀnderbehörde, terus balik lagi ke kantor. Sampai akhirnya nyampe dikeputusan final bahwa suami harus datang ke AuslÀnderbehörde untuk ketemu dengan Herr Heinz.

Herr Heinz ngejelasin bahwa untuk mahasiswa asing yang berasal dari negara bukan EU, peraturannya agak berbeda. Disaat seorang mahasiswa asing non-EU memutuskan untuk jadi mahasiswa di Jerman, maka aturan yang diikuti adalah aturan yang tercantum dalam § 16 AufenthG. Di dalam pasal ini diatur secara keseluruhan mengenai hak dan aturan mahasiswa non-EU dari sejak mengikuti persiapan untuk menjadi mahasiswa (mulai dari ikut Sprachschule sampai dengan Studienkolleg), hingga aturan mengenai waktu yang diperbolehkan untuk bekerja dan apa jenis pekerjaannya. Hal tersebut diatur dalam § 16 AufenthG Abs. 3.

Isi pasal § 16 AufenthG Abs. 3 di Zusatzblatt punya aku

Selanjutnya Herr Heinz bilang kalau mahasiswa non-EU tersebut sudah lulus kuliah, maka aturan yang mengatur bukan lagi § 16 AufenthG, melainkan § 18a AufenthG fĂŒr qualifizierte Geduldete zum Zweck der BeschĂ€ftigung. Di dalam pasal tersebut disebutkan bahwa seorang mahasiswa non-EU bisa bekerja menjadi tenaga ahli jika mahasiswa tersebut memiliki ijazah dari universitas atau lembaga yang setara dengan universitas yang diakui di Jerman. Untuk kasus suami, dia belum memenuhi kualifikasi § 18a AufenthG ini, karena kuliahnya masih berlangsung. Untuk jadi freelancer sendiri aturannya ada di pasal § 21 AufenthG mengenai selbstĂ€ndige TĂ€tigkeit dan untuk beberapa kasus kadang bisa dibikin pengecualian, asalkan pekerjaan yang dilakukan ada benefitnya untuk pemerintah Jerman, seperti kalau jadi freelance di salah satu instansi pemerintahan. Sedangkan suami saat itu jadi freelance di salah satu perusahaan perseorangan, jadi dia gak memenuhi syarat seperti yang tercantum di § 21 AufenthG, gitu Herr Heinz bilang.

Ada yang menarik dari info yang dibilang Herr Heinz dan mungkin ini penting buat sebagian dari kalian, ternyata yang termasuk dalam selbstÀndige TÀtigkeit itu gak cuma jadi freelancer di perusahaan, dagang juga termasuk loh. Herr Heinz bilang: Kalau kamu secara rutin berjualan di wilayah Jerman, baik online maupun secara langsung, itu kamu sudah melanggar hukum, karena status izin tinggal kamu tidak memperbolehkan kamu untuk melakukan selbstÀndige TÀtigkeit (apa bahasa Indonesianya ya? Ada yang tau?). Misalkan rutin dagang sesuatu di eBay atau Amazon atau jualan ke temen-temen secara langsung, itu sudah melanggar hukum Jerman, tapi kalau jualannya gak rutin itu gak apa-apa. Gak rutin disini seperti contohnya kalian punya barang yang udah kalian gak pake terus mau dijual buat nambah uang jajan, itu boleh dan gak melanggar hukum. Terus kalau kalian jualan barang-barang yang kalian beli di Jerman dan dibawa ke Indonesia untuk dijual kembali, itu juga boleh karena kalian dapet uangnya di Indonesia, jadi sistem undang-undang Indonesia yang mengaturnya dan bukan aturan Jerman. Kalau hal tersebut masih dilakukan, Herr Heinz bilang itu termasuk Schwarzarbeit atau kerja gelap dan salah satu sanksinya yaitu bayar denda sampai dengan 300.000 Euro dan untuk orang asing sanksinya bisa sampai di deportasi. Lengkapnya bisa dibaca disini mengenai kerja gelap.

Banyak-banyak cari info ya, karena ketidaktahuan gak lantas membuat kita semua bebas dari hukum.

Yuk bagikan informasi ini!

Leave a Reply

Facebook
Facebook
Instagram
YouTube
YouTube
LinkedIn
Ikuti Lewat Email
RSS